• Depan
  • Utama
  • Opini
  • Banten Kita
    • Tangerang Raya
    • Pandeglang
    • Lebak
    • Serang Raya
    • Cilegon
  • Hukum & Kriminal
  • Profil
  • Pendidikan
  • Ekonomi/Bisnis
  • Editorial
  • Pesta Demokrasi
pajak
Ucapan

Berita Populer

  • Siswa SMA Negeri 1 Cibeber Berkunjung ke IPB
  • Budidaya Jamur Tiram Putih Menguntungkan
  • Pilih mana, Jabatan Politis atau Jabatan Karir?
  • Habis Keberuntungan, Imal Diancam Hukuman Berat
  • Forum P3A Berperan Bagi Petani
  • E-Book Tidak Efektif
  • Telkom Flexi SPSI Diluncurkan
  • Disperindag Banten Usulkan Operasi Pasar Beras
  • Lereng Gunung Aseupan Longsor
  • Kabupaten Serang
22 Maret 2008 | Ekonomi/Bisnis

Bank Banten atau Bank Jabar Banten?

Seiring berdirinya Provinsi Banten, beberapa kalangan pelaku ekonomi di Banten menggagas pendirian Bank Banten. APBD Provinsi Banten yang hampir mencapai Rp 2 triliun menjadi salah satu alasannya.

Munculnya gagasan pendirian Bank Banten sebenarnya sudah ada ketika pertama kali Banten disyahkan menjadi sebuah Provinsi. Menurut Anang Rachmatullah yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia), gagasan pendirian Bank Banten semakin menguat saat HIPPI menggelar acara Musyawarah Daerah pada 2007 lalu, bahkan selain HIPPI Kadin Banten juga turut merekomendasikan pendirian Bank Banten. Kadinda Banten serta ICMI Banten turut mendukung pembentukan Bank Banten.

“Teman-teman pelaku ekonomi memahami benar usaha perbankan. Dilihat dari infrastruktur dan struktur, rencana pendirian Bank Banten sudah memenuhi syarat, tinggal legal formal saja yang dibangun atau akuisisi yang sudah ada seperti Bank Jabar Syariah,” ujar Anang. Pengusaha muda yang enerjik juga menambahkan, saat ini hubungan HIPPI dengan Bank Jabar pun sudah terjalin dengan baik.

Pada dasarnya, menurut Anang, untuk mendirikan Bank Banten, problem paling besarnya terletak pada bagaimana ke depan kekuatan Bank Banten dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Banten. Sepertinya Pemprov Banten masih memiliki sikap setengah hati, walaupun di satu sisi sudah menyetujui dan mengesahkan Perda tentang pendirian Bank Banten. “Sebenarnya jika Bank Banten didirikan, maka akuisisi relatif akan lebih mudah. Tinggal bagaimana SDM (Sumber Daya Manusia)-nya ditingkatkan,” katanya. “Saya menilai, gubernur sebagai pemegang otoritas APBD Banten masih terpengaruh oleh Bank Jabar Banten,” jelas Anang.

Masih menurut Anang, gagasan mendirikan Bank Banten bukan berarti membenci Bank Jabar, tapi lebih karena melihat Banten sudah menjadi Provinsi. “Suka tidak suka, cepat atau lambat Banten bakal memiliki bank sendiri,” ungkapnya.

Anang juga menawarkan tiga opsi pilihan alternatif pilihan bagi Pemprov Banten untuk mendirikan Bank Banten. Opsi pertama mendirikan bank yang sama sekali baru. Opsi kedua, seluruh aset Bank Jabar yang beroperasi Banten dihitung sebagai kepemilikan saham Bank Jabar untuk berubah menjadi Bank Banten. Opsi ketiga, mengambil alih (take over) bank sudah beroperasi di Banten. Untuk opsi ketiga ini, mengambil alih Bank Jabar syariah lebih memungkinkan.

“Saya sangat optimis, seluruh komponen masyarakat bakal mendukung penuh. Secara individu sudah mendukung, tinggal antar lembaga. Pertengahan tahun ini akan diagendakan kupas tuntas pembentukan Bank Banten,” ungkap Anang.

“Saya yakin, melalui pendekatan para pengusaha, kalangan pemilik modal dan pemilik otoritas akan mengerti dan memahami. Karena pembentukan Bank Banten hampir serupa dengan persoalan pemekaran provinsi,” pungkasnya.

Bank Jabar Banten Mendukung
Menanggapi wacana pendirian Bank Banten, Mardianto, Pemimpin Seksi Pemasaran Bank Jabar mengaku Bank Jabar mendukung sepenuhnya. “Sebenarnya wacana mendirikan Bank Banten itu sudah lama muncul dan sering dimunculkan di media,” ungkapnya.

Masih menurut Mardianto, dalam setiap usaha kompetisi adalah hal yang lumrah, oleh karena itu Bank Jabar sama sekali tidak memiliki rasa kekhawatiran tersaingi. “Yang penting kan bersaing secara sehat dan dalam batas yang wajar. Manajemen perusahaan juga bakal memiliki konsep yang masing-masing berbeda untuk merangkul nasabahnya,” tambahnya.

“Sekarang aja dengan bank-bank lain di Banten kita bersaing kok. Suku bunga kita juga tetap berani bersaing. Bagi kami yang penting dan utama adalah pelayanan kepada para,” urai Mardianto. “Dari tadinya Bank Jabar sekarang sudah menjadi Bank Jabar Banten, karena memang sudah dianggap sebagai Bank Banten,” tambahnya.

Sejauh ini, kondisi usaha secara umum di Banten banyak dari Kalangan UKM (Usaha Kecil Menengah). Kondisi ini membawa Bank jabar Banten memfokuskan diri pada program yang membantu masyarakat yang akan membentuk usaha. Salah satunya mendukung dengan pembentukan dan pengembangan UKM di Banten dengan empat produknya.

Produk Bank Jabar Banten untuk UKM
Kredit Mikro Utama Individu. Untuk produk ini pagu pinjaman bisa mencapai 50 juta rupiah. Pinjaman ini diperuntukkan bagi pengusaha mikro yang bergerak di bidang perdagangan, industri kecil, pertanian, perkebunan, perikanan, agrobisnis, jasa,dan lain lain. Agunan bisa menggunakan Bukti Pemilikan Tanah dan Bangunan Tinggal (SHM, SHGB, SHGP). Persyaratan utuk pengajuan, yaitu Ijin Usaha dari desa atau kelurahan (keterangan serba guna). Jangka waktu pinjaman modal kerja selama 3 tahun, dan untuk investasi selama 5 tahun.

Kredit Mikro Utama, poduk layanan ini berupa Kredit Mikro Utama Kelompok, Kredit Mikro Utama Linkage Program. Kredit Mikro Utama diperuntukkan untuk pembiayaan yang penyaluran atau penatausahaannya dilakukan melalui kerjasama dengan BPR. Pola yang dipakai adalah Pola Executing, dimana kredit diberikan kepada BPR kemudian dipinjamkan kepada pengusaha mikro. Pola Channeling, BPR berperan sebagai penatausaha pinjaman. Adapun pagu yang disalurkan masing masing debitur untuk yang pola executing mencapai 25 Juta rupiah, sedangkan untuk pola channeling mencapai 50 Juta rupiah.

Kehadiran Bank Jabar di Provinsi Banten terhitung sudah tua. untuk pengembangan usahanya di Banten, melalui kerjasama dengan Bank Syariah, Bank Jabar mendirikan Bank Jabar Syariah. Upaya melayani Masyarakat Banten yang terkenal religius.

Seiring dengan perjalanan Provinsi Banten, Bank Jabar turut menjadikan nama Banten sebagian brand dari namanya. Nama itu kini menjadi Bank Jabar Banten. Letaknya yang berada di pusat ibu kota Provinsi Banten, Jl Veteran No 6, Serang, menjadikan Bank Jabar Banten mau tidak mau turut terlibat dalam denyut perkembangan Provinsi Banten.

Berita Lain

  • Pengajuan Nama Penjabat Walikota Tangsel Tunggu Pedoman Pelaksanaan
  • Koalisi Masih Gelap
  • Butuh Rp 100 Triliun Untuk Bangun JSS
  • Sidang Kasus JLPIR, Terdakwa Seharusnya Bisa Menolak Pembayaran
  • Kabupaten/Kota Menolak Rencana Pengurangan Bantuan Fresh Money

Komentar Anda:

  1. dana | 10 Maret 2009 | 01:05

    untuk sekarang saya butuh tambahan modal ? kerena saya sebagai nasabah bank jabar dalam waktu ini saya belum bisa membayar ansuran yang ke 8 dengan alasan yang berikut ini.
    saya kekurangan modal kami minta saran dari anda untuk memecahkan masalah ini .agar bisa meneruskan ansuran yang berikutnya

Tulis Komentar

  • Home
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
  • Edisi Cetak
Copyright © 2010 KORAN BANTEN Re-Design by online film izle