Penumpang KA Ekonomi Selalu Cemas Dibayangi Kejahatan
Naik kereta api boleh dibilang mengasyikan. Penumpang bisa santai menikmati pemandangan alam yang indah, tidak ada risiko kecelakaan atau tabrakan seperti halnya menumpang kendaraan lain. Maklum, kereta api memiliki jalur sendiri dan tidak terganggu kendaraan lain.
Namun di balik keasyikan itu, ternyata selalu menyelinap rasa was-was alias kecemasan di hati para penumpang. Pasalnya, jarak tempuh kereta api yang jauh dan lama sering dimanfaatkan oleh para pelaku kriminal untuk beraksi. Rasa cemas itu sebenarnya bisa mengurangi kenyamanan para penumpang untuk menikmati perjalanan.
Sayangnya, tak mudah bagi penumpang, atau siapapun, untuk mengenali ciri-ciri atau motif-motif para pelaku kejahatan, seperti copet dan penodong. Seringkali pencopet atau penodong justru berpenampilan rapi, formal atau biasa-biasa saja. Di dalam kereta api tentu terdapat ratusan penumpang dengan berbagai penampilan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan, PNS, pedagang asongan, bahkan pengemis pun ada di atas kereta. Tetapi kita tidak dapat mengetahui siapakah mereka sebenarnya. Apakah mereka orang baik-baik, ataukah para pelaku kejahatan.
Itulah sebabnya, penumpang kereta api kehilangan kenyamanan yang seharusnya bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Penumpang malah dibayangi ketakutan, ketidaknyaman, dan rasa was-was. Terlebih kalau naik kereta api ekonomi yang harga tiketnya tergolong murah dan tidak dikawal oleh petugas keamanan. Hanya dilayani oleh petugas pemeriksa tiket saja.
Berbeda dengan kereta api Patas eksekutif yang fasilitasnya lebih lengkap dan lebih memadai. Aspek keamanan benar-benar dijaga dengan ketat karena dikawal oleh petugas keamanan dari stasiun. Penumpang baru dapat merasakan kenyamanan naik kereta api walau pun dengan harga tiket yang lebih mahal.
Sebenarnya di setiap stasiun kereta api sudah selayaknya memenuhi tiga unsur bagi penumpangnya untuk memberikan kenyamanan selama perjalanan. Ketiga unsur tersebut yaitu PKD, Polsuska, dan Kepolisian. Seperti yang diberikan oleh stasiun Rangkasbitung yang dikepalai oleh Purwo Hadi Santosa. Stasiun ini memiliki tiga unsur keamanan, yakni pihak PKD Rangkasbitung dikirim langsung dari Jakarta oleh pihak PT KAI, pihak Polsuska berasal dari stasiun Rangkasbitung itu sendiri, sedangkan dari pihak kepolisian stasiun Rangkasbitung dibantu oleh Polres Lebak.
Jumlah personilnya masing-masing yaitu dari dari kepolisian berjumlah 3 personil, dari Polsuska berjumlah 3 personil, sedangkan dari PKD berjumlah 14 personil. Sesuai dengan tugasnya setiap hari, masing-masing dari anggota keamanan menjalankan tugasnya secara rutin dan saling bekerja sama.
Lain halnya dengan stasiun Serang. Staiun ini hanya dibantu oleh satu orang personil keamanan dari pihak kepolisisan yang dikirim dari Polsek Serang. Karena Stasiun Serang termasuk stasiun yang terbilang aman, maka pihak Stasiun Serang tidak memerlukan terlalu banyak personil keamanan agar lebih terkontrol.
“Selama kita masih dapat menanganinya sendiri, kenapa kita harus minta bantuan lagi. Selama masih merasa cukup, tidak perlu dulu ada penambahan personil keamanan karena Stasiun Serang dapat dikatakan aman dengan jumlah personil keamanan yang sekarang. Terbukti dengan sedikitnya jumlah angka kejahatan yang terjadi di Stasiun Serang,” tutur Rasidi, mewakili Kepala Stasiun Serang.
Menurutnya, pos polisi stasiun selain berada di Rangkasbitung, juga ada di stasiun Serang. Sehingga penumpang yang mengalami kecopetan atau penodongan di atas kereta tidak dapat melaporkannya di stasiun lain. Pos polisi di Stasiun Serang biasanya menampung dan menerima laporan tindakan kejahatan untuk penumpang kereta api dari Rangkasbitung dan Merak. Sementara laporan penumpang kereta api asal Jakarta menuju Rangkasbitung biasanya laporannya diterima di Stasiun Rangkasbitung.
“Banyak korban kejahatan yang melapor ke Stasiun Serang namun tersangka tidak dapat ditangkap karena tersangka tidak ada yang berani turun di Stasiun Serang,” tegas Rasidi.
Tersangka pasti selalu turun di stasiun sebelum Stasiun Serang, seperti di Stasiun Catang, Cikeusal, ataupun di stasiun Walantaka.
Bagaimanapun juga setiap pelaku kejahatan maupun penumpang ilegal yang masuk Stasiun Serang, pasti selalu tertangkap, lanjut Rasidi karyawan PT KAI yang merangkap sebagai keamanan membantu anggota kepolisian Polsek Serang.
Sebenarnya selain karena ketegasan para anggota keamana di setiap stasiun, untuk menekan angka kejahatan yang selalu dilakukan oleh para anggota keamanan setiap stasiun yaitu operasi yang disebut PS ( Pemeriksaan Serentak ). “Berdasarkan evaluasi, operasi PS berhasil menekan angka kejahatan di atas kereta api. Selain itu PS juga dapat merazia penumpang ilegal alias tidak memiliki karcis,” ungkap pak Purwo Hadi Santoso selaku kepala Stasiun Rangkas Bitung.
Berdasarkan pemantauan wartawan Koran Rakyat Banten, trik yang biasa digunakan oleh para petugas keamanan stasiun adalah bersahabat dengan para pedagang asongan, karena yang dapat dikatakan hafal atau lebih mengenal para pelaku kejahatan adalah para pedagang asongan. Sehingga ketika ada pelaku kejahatan atau terlihat mencurigakan untuk berbuat kejahatan atau biasa disebut copet naik ke kereta, maka pedagang asongan tanpa diminta segera melapor ke petugas keamanan stasiun.
Apabila mendapat laporan seperti itu, kereta pasti dikawal menuju stasiun berikutnya. Sehingga ketika pencopet tersebut beraksi, dapat langsung ditangkap dan diamankan oleh petugas keamanan yang mengawal dan diserahkan ke petugas keamanan di stasiun berikutnya untuk diproses secara hukum yang berlaku. (arif)
kakak saya yang sudah sejak belum menikah tinggal di PTA,tangerang (1998) mengajak saya mengambil rumah di salah satu perumahan di belakang stasiun tigaraksa, tangerang banten. tadinya saya tertarik tetapi saya membatalkan niat setelah kakak saya curhat tentang parahnya trauma penumpang KA Rangkas-Kota akan aksi pencopetan.bahkan dia yang tadinya kerja di jakarta naik bis dan pulang seminggu sekali sangat menyesal mengambil keputusan untuk pindah tempat kerja. dia ingin bisa pulang setiap hari agar bisa melihat anak istrinya walaupun pergi subuh pulang hampir larut malam. dan akhirnya dia mendapat pekerjaan yang dia impikan. namun kebahagiaan itu cuma berlangsung 4 bulan. karena di bulan ketiga dia baru sadar bahwa selama ini dia di fitnah sebagai copet. padahal kakak saya berpenampilan rapi,tidak banyak bicara-lebih banyak memejamkan mata saat duduk maupun berdiri di kereta, ada beberapa tetangga yang juga naik kereta dari stasiun tigaraksa tapi dia lebih memilih untuk tidak bersama mereka.dari gerak tubuh dan bahasa penumpang senior-kebanyakan orang desa-yang tertangkap oleh mata dan pendengaran kakak saya (walaupun mereka berbahasa sunda) jelas dan nyata-nyata menuduh kakak saya copet atau setidaknya salah satu komplotan copet! bahkan memberitahu sekitar mereka agar berhati-hati terhadapnya.dan selama bulan-bulan pertama itu dia betul-betul tidak sadar dengan situasi yang dia hadapi. sebelumnya bahkan dia bertanya-tanya kenapa penumpang yang dia ajak bicara malah menyepelekannya, ada yang memandang marah, bahkan yang lebih menyakitkan meludah di depannya! entah darimana mereka bisa berpikiran seperti itu. padahal kalau mereka melihat orang yang tangannya bertato, berpakaian seadanya, dengan tas ransel yang di kempit di dada, atau melihat komplotan yang agak rapih dan bergerak mencurigakan di kereta api tentu mereka tak berani mengucapkan sepatah katapun untuk menilai dan mengomentari orang itu sebagai copet.ternyata setelah bertemu dengan beberapa tetangga yang juga pernah naik kereta rangkas-kota untuk bekerja kakak saya mendapatkan keterangan bahwa memang ada sekelompok copet yang mengontrak rumah di salah satu perumahan bahkan dengan membawa serta keluarga mereka. tidak itu saja tetangga yang dia kenal sebagai assiten manajer di JHCC tanah abang mall dan sudah lebih dulu dan lebih lama menggunakan KA untuk pergi bekerja kini lebih memilih pulang seminggu sekali karena dia pun dituduh sebagai copet!!!!!!!
keterlaluan dan sangat tidak manusiawi. tetapi bagaimanapun dunia sudah dijungkir balikkan oleh kenyataan seperti ini kondisi ini takkan berubah sampai kapanpun. kakak saya mencoba melawan opini orang-orang di kereta itu dengan tetap tidak menghiraukan pandangan maupun sindiran yang dia dengar, tapi dengan pertimbangan bahwa lebih banyak orang primitif daripada orang modern di indonesia ini dan demi keselamatan imannya (ketimbang dia membalas dendam ) dia memilih untuk mengalah dan menyikapi hal ini sebagai COBAAN. namun apa yang dia dapatkan tinggallah kepedihan!!!!!!!!!!!!!
saya merasa cemas bila naik kereta dari mulai,
staaiun jakarta ,sampai cilegon