Desa Kibin Kecamatan Kibin, Dapat Berkah dari Industri
Desa Kibin yang terletak di Kecamatan Kibin terkenal sebagai desa yang banyak dihuni oleh industri. Bahkan, sebagian besar wilayahnya terdiri dari pabrik-pabrik besar yang juga menjadi tumpuan utama perekonomian di wilayah itu. Tak heran, sebagian besar kegiatan perekonomian masyarakat—secara langsung maupun tak langsung—setempat selalu berkaitan dengan dunia industri. Desa ini benar-benar mendapat “berkah” akibat kehadiran industri.
Berdasarkan data yang terdapat di Kantor Desa Kibin, setidaknya terdapat delapan buah perusahaan besar yang beroperasi di wilayah itu. Pabrik-pabrik itu memproduksi keramik, mebeuler, tutup drum dan produk-produk lainnya. Dengan kondisi tersebut, tak heran bila mayoritas penduduk Desa Kibin menggantungkan hidupnya dari berbagai industri yang ada di desanya. Dari 5.971 penduduknya, 65 % diantaranya bekerja sebagai buruh pabrik.
Selain itu, 10% penduduk yang berprofesi sebagai pedagang juga banyak memanfaatkan pesatnya perkembangan industri sebagai “lahan” perdagangan mereka. Disamping itu, masih terdapat penduduk yang berprofesi sebagai petani yang persentasenya mencapai 20%. Sedangkan lima persen lainnya berprofesi sebagai pegawai negeri.
Banyaknya penduduk yang terserap di berbagai industri di Desa Kibin, tak lepas dari peran pemerintah desa yang terus memberdayakan masyarakatnya. Menurut sekretaris Desa Kibin, Juhdi, pihak desa melakukan musyawarah dengan pihak perusahaan —yang biasanya diwakili bagian personalia— tentang mekanisme perekrutan dan pemberdayaan masyarakat sekitar.
“Biasanya dalam musyawarah itu kami menyepakati tentang berapa persen masyarakat yang akan direkrut oleh perusahaan. Untuk saat ini, kesepakatan antara pihak desa dengan perusahaan, sebanyak 30% warga sekitar dapat diterima bekerja di perusahaan tersebut,” kata Juhdi.
Meski begitu, Juhdi tetap berharap jumlah itu dapat ditingkatkan, mengingat saat ini masih sangat banyak masyarakatnya yang memerlukan pekerjaan. Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat mau memperjuangkan agar “jatah” penduduk yang dapat direkrut bisa menjadi 50%. Selain itu, ia juga ingin pemerintah daerah memikirkan peningkatan kualitas sumber daya manusia di desanya agar mempunyai kemampuan saat memasuki dunia industri.
Diluar peningkatan kemampuan, Juhdi juga menilai pentingnya pendidikan moral bagi warganya. Hal itu disebabkan masih ada warga yang suka “berulah” di tempat kerjanya. Ia mengaku sering menerima keluhan dari pihak industri yang sering menemukan pekerja “Lokal” malas-malasan, mengambil barang, bahkan melawan pada atasan, yang menyebabkan mereka dikeluarkan oleh pihak perusahaan.
“Akibat segelintir karyawan yang berulah, karyawan lain—yang juga merupakan warga Kibin—terkena imbasnya karena perusahaan menganggap hal itu sebagai kebiasaan masyarakat sini,” ungkap Juhdi
Selain banyak menyerap tenaga kerja “lokal”, banyaknya industri di Desa Kibin juga banyak dimanfaatkan oleh perantau yang bekerja di berbagai pabrik yang terdapat di desa itu. Berdasarkan pendataan pemerintah desa setempat, tak kurang dari 3.478 pendatang mengadu nasib di desa yang memiliki wilayah seluas 444 hektar itu. Pendatang kebanyakan berasal dari Lampung, Palembang, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Karena banyaknya pendatang itu pula, manfaat kehadiran industri di Desa Kibin tidak hanya terbatas pada terserapnya tenaga kerja ke dunia industri. Karena, selain bekerja sebagai buruh, banyak masyarakat Kibin yang membuka bisnis rumah kontrakan yang biasanya diperuntukkan bagi pegawai pabrik yang berstatus pendatang.
Menurut Juhdi, bisnis rumah kontrakan ini sudah berlangsung cukup lama, tepatnya sejak tahun 1988. Yang istimewa, rumah kontrakan tidak hanya dimiliki warga, pihak Desa Kibin juga memiliki aset berupa rumah kontrakan. Rumah yang dikontrakkan itu hasilnya digunakan untuk keperluan operasional Desa Kibin yang memiliki 26 RT dan empat RW.
“Rumah kontrakan ini dibuat karena banyak karyawan pabrik yang merupakan pendatang dan membutuhkan tempat tinggal. Selain itu, kebanyakan buruh pabrik pendatang juga enggan membeli rumah. Alasannya, mereka lebih baik mengontrak bersama teman-temannya karena lebih murah,” tuturnya.
Manfaatkan Limbah
Upaya meningkatkan ekonomi masyarakatnya, pihak Desa Kibin tak hanya memperjuangkan penduduk setempat agar bekerja sebagai buruh pabrik. Memanfaatkan potensi berupas limbah industri keramik, kini desa itu memiliki usaha pembuatan keramik bekas yang letaknya di kampung Malangnengah. Juhdi mengaku usaha itu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut.
“Produk itu berasal dari bahan reject yang biasanya dibuang oleh perusahaan. Pihak desa melobi perusahaan agar produk yang terbuang itu dimanfaatkan masyarakat. Hasilnya, kini masyarakat bisa memproduksi keramik bekas yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka,” tutur Sekdes.
Selain peningkatan ekonomi masyarakat, Desa Kibin juga terus berupaya meningkatkan kualitas SDM di desa tersebut dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Pemerintah juga melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat untuk mengurangi angka penderita buta aksara di desa tersebut. Penyuluhan itu dilakukan melalui acara-acara kemasyarakatan seperti pengajian dan rapat bulanan RT maupun RW di balai desa. “Alhamdulillah kesadaran masyarakat mengenai pendidikan sudah meningkat. Peningkatannya mencapai 30%,” tambahnya.
Secara geografis, Desa Kibin bersebelahan dengan Kecamatan Binuang di sebelah utara, Desa Tambak di sebelah selatan, Kecamatan Cikande di sebelah timur dan Desa Ciagel di sebelah barat. Desa Kibin baru saja menyelesaikan proses pemilihan kepala desa untuk periode 2008-2014. Dari hasil pilkades itu, H. Cecep terpilih sebagai kades baru dan akan menggantikan posisi H. Tabrani, pejabat kades sebelumnya. (ari)
Tulis Komentar