Bukan Sekedar Pemanis
Pekan ini, para pemuda dan pemudi Indonesia diingatkan kembali oleh apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya pada 80 tahun lalu. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dan pemudi Indonesia mengikrarkan diri untuk memuunculkan semangat nasionalisme serta persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; serta menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Generasi muda sudah terlibat dalam interaksi dengan dunia luar secara intensif. Dalam suasana globalisasi, internet dan televisi, telah membawa masyarakat yang berada di daerah pedesaan pun telah berinteraksi dengan dunia luar. Lewat media ini, berbagai budaya internasional berinteraksi dengan masyarakat Indonesia. Dari ilmu pengetahuan, pemikiran hingga gaya hidup kini semuanya berinteraksi dan bercampur aduk menjadi gaya bahkan identitas di kalangan muda.
Kini di pinggir jalan banyak dijajakan makanan khas dari dunia luar. Burger dan Hotdog, kini tidak harus di restoran mewah dan mahal. Di kelas pedagang kaki lima pun gampang kita temui. Bahasa Inggris juga telah menjadi bahasa percakapan di kalangan generasi muda. Bahkan di dalam dunia hiburan kita, sinetron dan lagu, dialog atau liriknya banyak menyisipkan bahasa asing.
Patut berbangga pula, di antara sejumlah kekhawatiran yang melanda berbagai kalangan terhadap kalangan muda bangsa ini, masih banyak kalangan muda yang peduli dengan kemajuan bangsa dan wilayahnya. Gaung saatnya kalangan muda tampil ke depan dalam kepemimpinan nasional kini tengah berhembus kuat. Beberapa partai politik tengah berusaha menangkap gaung ini.
Tidak hanya di tingkat kepemimpinan nasional, di tingkat lokal daerah, dari kalangan pemuda kini banyak tampil turut bersaing dalam kepemimpinan daerah. Berbagai gelaran pilkada di beberapa daerah telah menujukkan hal ini. Meski saat ini posisinya masih sebagai wakil pasangannya, perannya memiliki nilai tersendiri dalam turut menggairahkan semangat kalangan muda lainnya untuk turut terlibat dalam membangun wilayahnya bahkan negerinya.
Ajang Pemilu 2009, turut menjadi jalur kalangan muda untuk tampil ke depan dalam membangun negeri ini. Sebagai kalangan mayoritas di negeri ini, kalangan muda memiliki potensi pengeruk suara dari kalangan sendiri. Meski sebagian di antaranya berbungkus dengan kalangan muda dari dunia selebritis, kalangan muda yang berlatar belakang dari organisasi kepemudaan, organisasi masyarakat hingga dunia pendidikan, kini banyak yang tampil untuk menjadi calon-calon wakil rakyat.
Tampilnya kalangan muda di pentas ini, juga tidak terlepas dari strategi kampanye partai-partai peserta pemilu untuk dapat mengeruk suara sebanyak-banyaknya. Bahkan kalau bisa mampu menggolkan kadernya tampil dalam jajaran pemimpin nasional. Kampanye sebagai ajang komunikasi antara partai dengan pemilih mau tidak mau memerlukan strategi komunikasi yang tepat untuk meraih secara maksimal tujuan dan target yang ditetapkan. Di sinilah salah satu di antaranya peran pemuda cukup diperhitungkan kalangan dewasa atau orang tua yang telah malang melintang di dunia politik.
Bukan hanya sekedar pemanis atau pajangan saat berkampanye, dari kalangan muda kini sudah banyak yang mampu berkiprah di dunia politik maupun kepemimpinan untuk mengimbangi kalangan di atasnya. Beberapa kalangan muda yang tampil menjadi rakyat serta mereka yang terpilih dalam kepemimpinan daerah telah menujukkan hal ini. Kini banyak dari kalangan muda yang telah mampu memposisikan diri dalam membangun negeri ini.
Tulis Komentar