Pemuda Selayaknya Turut Berperan
Serang - Generasi muda bisa mengambil peran politik, dalam hal regulasi dan distribusi kekuasaan dengan paradigma politik yang lebih rasional dan menghormati prosedur-prosedur hukum. Karena generasi muda mengemban tanggung jawab sejarah sumpah pemuda, untuk memahami politik, bukan sebagai arena perebutan kekuasaan yang mengabaikan nilai etis kekuasaan, untuk mencapai kebaikan umum atau common good dan menghormati prosedur-prosedur hukum. Tetapi memahaminya sebagai arena untuk mengimplementasikan tujuan praksis kekuasaan itu sendiri.
Hal itu diungkapkan, Deden Apriandhi saat diskusi publik mengenai Posisi Pemuda Dalam Politik Dan Pemerintahan. Yang diadakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah. di aula utama IAIN SMH Banten.Rabu (05/11)
“Di mana kekuasaan menjadi efektif dan efisiensi untuk melaksanakan program-program kerja dan visi kekuasaan yang pro-perubahan,” tegas Deden
Deden menambahkan, Bahwa generasi muda sudah selayaknya berjuang dan bekerja keras, untuk menempati posisi – posisi politis dan birokratis bila generasi muda ingin melakukan perubahan, dari dalam kekuasaan itu sendiri. Bukan dari luar kekuasaan. Ia bisa menjadi seorang praktisi tanpa harus hanyut dalam perilaku politik lama yang normatif, konvensional dan tidak pro-perubahan. Karena perubahan hanya dimungkinkan melalui kekuatan dan kekuasaan.
Ia juga menegaskan, bahwa posisi politik dan pemerintahan hanya akan dirubah dan diperbaiki dengan kerja keras. Bila kita memahami generasi muda sebagai kekuatan pembaharu dan perubahan, seperti yang didengungkan bahwa generasi muda adalah agen perubahan sosial. Sebab slogan tersebut hanya akan kehilangan isi maknanya bila generasi muda hanya mampu berada di luar panggung atau hanya berteriak di jalanan.
“Saya memandang posisi dan peran generasi muda yang efektif, untuk melakukan perubahan dan perbaikan sekalipun. Haruslah dengan jalan memegang kunci-kunci kepemimpinan dan birokrasi. Tapi jangan lupa, hal itu hanya akan bisa dilakukan bila generasi muda memiliki kapasitas dan semangat juang, visi dan kreativitas. Karena, bila tanpa kemampuan yang memang dibutuhkan dalam kancah politik dan praksis pemerintahan, niscaya generasi muda tidak akan pernah diperhitungkan dan tak akan mampu membuktikan perannya,” cetus Deden
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang, Akhmad Zubaidilah menyatakan, politik tidak semata-mata dipahami sebagai upaya perebutan kekuasaan atau suksesi. Tetapi lebih dari itu, politik bisa juga dipahami sebagai praksis untuk melakukan pergeseran, dari status yang jumud dan mandeg.(nur)
Tulis Komentar