• Depan
  • Utama
  • Opini
  • Banten Kita
    • Tangerang Raya
    • Pandeglang
    • Lebak
    • Serang Raya
    • Cilegon
  • Hukum & Kriminal
  • Profil
  • Pendidikan
  • Ekonomi/Bisnis
  • Editorial
  • Pesta Demokrasi
pajak
Ucapan

Berita Populer

  • Siswa SMA Negeri 1 Cibeber Berkunjung ke IPB
  • Budidaya Jamur Tiram Putih Menguntungkan
  • Pilih mana, Jabatan Politis atau Jabatan Karir?
  • Habis Keberuntungan, Imal Diancam Hukuman Berat
  • Forum P3A Berperan Bagi Petani
  • E-Book Tidak Efektif
  • Telkom Flexi SPSI Diluncurkan
  • Disperindag Banten Usulkan Operasi Pasar Beras
  • Lereng Gunung Aseupan Longsor
  • Kabupaten Serang
12 Desember 2008 | Profil, Utama

Agus Priyono: Koalisi Pembebasan Nasional

Bergantungnya republik Indonesia pada investasi asing, menyebabkan kekuatan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kondisi ekonomi global. Namun, krisis global yang saat ini menimpa beberapa negara dengan kekuatan ekonomi yang sangat besar, dinilai merupakan satu kesempatan untuk mengembalikan kemandirian negeri ini, seperti cita-cita para pendiri bangsa.

Beberapa masalah mendasar, menurut Ketua Umum Partai Persatuan Pembebasan Nasional, Agus Priyono, saat ini sedang menyelimuti kemandirian Bangsa Indonesia. Keresahan terhadap masalah yang dihadapi bangsa ini mendorongnya untuk mewujudkan koalisi bagi segenap pihak dari manapun latar belakangnya untuk kemandirian bangsa.

“Masalah kesejahteraan rakyat akibat tidak memiliki kadaulatan atau kemandirian ekonomi. Masalah kepemimpinan nasional yang selalu berkompromi dengan kepentingan asing atau global. Serta, masalah konstitusi dimana produk undang-undang sejak tahun 2004 oleh DPR RI semua diliberalkan. Sektor pertambangan, energi dan BUMN diliberalkan, sehingga lebih terbuka untuk dikuasai oleh asing,” urai Agus.

Koalisi pembebasan nasional untuk kemandirian Bangsa Indonesia ini, berusaha mempersatukan segenap pihak dari manapun latar belakang aliran politiknya. Tidak membedakan kalangan nasionalis maupun agamis. “Nasagor. Nasionalis, agamis dan gotong royong sebagai sifat bangsa Indonesia,” cetusnya.

Keberpihakan kepada masyarakat miskin atau terpinggirkan menjadi salah satu ukuran utama untuk turut dalam koalisi ini. Peningkatan kesejahteraan kaum tani, nelayan, buruh hingga prajurit TNI/ Polri menjadi jalan untuk kemandirian bangsa Indonesia. Sedangkan untuk berkoalisi dengan partai lain, kata Agus, menjadi pilihan Papernas karena tidak ikut verifikasi di KPU meski telah terdaftar di Departemen Hukum dan HAM. “Kami mengalami resistensi politik saat hendak mendeklarasikan diri di beberapa tempat,” ujarnya.

Meski demikian, tak memupus perjuangan Papernas dalam memperjuangkan kemandiran bangsa melalui jalur konstitusi. Setelah intens menjalin komunikasi dengan beberapa partai, saat ini telah terjalin koalisi dengan Partai Bintang Reformasi (PBR). Kesamaan program terutama menyangkut kemandirian bangsa, sebagai partai terbuka/ pluralisme, keberpihakan pada kaum terpinggirkan serta kepemimpinan kaum muda di PBR menjadi penopang koalisi Papernas dengan PBR.

“Sekitar 570 kader Papernas di seluruh Indonesia yang kini bergabung dengan partai-partai lain, sebanyak 270 maju melalui PBR,” ungkap Agus.

Para kader yang masuk ke parlemen, ditugaskan untuk memperjuangkan produk undang-undang yang lebih berpihak kepada ekonomi kerakyatan, investasi yang masuk berpihak pada penguatan ekonomi lemah hingga upaya penghapusan hutang luar negeri. Ketiganya dalam kerangka menuju kemandirian bangsa Indonesia. (ass)

Berita Lain

  • Pemkot Cilegon Umumkan Mutasi 5 November
  • GMNI Banten, Menyesalkan Sikap Anggota DPRD Banten Yang Menggelar Rapat Di Bali Dan Makasar
  • PMI Gelar Tasyakuran
  • Pasar Pandeglang Terbakar
  • Kasus Interchange, Pembelian Lahan Belum Dilunasi Terdakwa

Tulis Komentar

  • Home
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
  • Edisi Cetak
Copyright © 2010 KORAN BANTEN Re-Design by online film izle