• Depan
  • Utama
  • Opini
  • Banten Kita
    • Tangerang Raya
    • Pandeglang
    • Lebak
    • Serang Raya
    • Cilegon
  • Hukum & Kriminal
  • Profil
  • Pendidikan
  • Ekonomi/Bisnis
  • Editorial
  • Pesta Demokrasi
pajak
Ucapan

Berita Populer

  • Siswa SMA Negeri 1 Cibeber Berkunjung ke IPB
  • Budidaya Jamur Tiram Putih Menguntungkan
  • Pilih mana, Jabatan Politis atau Jabatan Karir?
  • Habis Keberuntungan, Imal Diancam Hukuman Berat
  • Forum P3A Berperan Bagi Petani
  • E-Book Tidak Efektif
  • Telkom Flexi SPSI Diluncurkan
  • Lereng Gunung Aseupan Longsor
  • Disperindag Banten Usulkan Operasi Pasar Beras
  • Kabupaten Serang
16 Januari 2009 | Utama

Kades Keukeuh Minta Lomba P2WKSS Ditinjau Ulang

PANDEGLANG | Kades Citalahab, Kecamatan Banjar Kabupaten Pandeglang, Hambali, keukeuh meminta tim penilai lomba Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) Provinsi Banten tahun 2008, untuk mengkaji ulang hasil penetapan pemenangnya. Mereka tetap meyakini, hasil perlombanaan yang ditetapkan oleh tim penilai tidak sesuai denga kriteria yang ada.
“Kami bersama seratus kepala keluarga binaan sangat kecewa untuk itu meminta kepada panitia untuk meninjau ulang kembali penilaian lomba P2WKSS tingkat provinsi Banten. Karena secara beban materi dan moral, saya selaku kepala desa sudah dirugikan,” Hambali.

Menanggapi tuntutan itu, mantan pejabat Dinas Sosial Kabupaten Pandeglang, Vita Agustini juga mengaku kecewa dengan kekalahan Desa Citalahab pada lomba P2WKSS tingkat provinsi itu. Meski demikian, ia meminta Kades Cilatalahab untuk legowo terhadap hasil lomba.

“Karena kita semua tahu dengan kondisi Kabupaten Pandeglang saat ini, hal tersebut berdasarkan komitmen kepala daerah untuk mendukung kemajuan desa dari berbagai bidang. Saya sendiri sebagai pengurus yang membidangi program ini ikut kecewa dengan kekalahan itu, tetapi kita harus yakin bahwa suatu saat kita harus bisa meraih kemenangan,” katanya.

Perihal pihak panitia yang meminta sejumlah uang pelicin kepada peserta lomba, Vita menilai hal itu sebagai hal biasa. Menurutnya, wajar bila panitia diberi bingkisan atau pengondisikan panitia ketika berkunjung ke desa yang dinilai.

“Setahu saya panitia tidak meminta pengkondisian kepada kepala desa akan tetapi mereka dikondisikan oleh peserta dari kabupaten. Itu bukan terjadi di Pandeglang saja, jadi wajar saja kalau kita memberikan oleh-oleh kepada panitia, kita yang memberikan bukan mereka yang meminta,” jelas Vita.

Sebelumnya, penjabat PLMDU pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Desa ( BPPMD) Provinsi Banten Enong Suhaeti, yang menjadi ketua tim penilai, membantah terjadinya praktik KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) dalam pentapan pemenang P2WKSS tingkat Provinsi Banten tahun 2008. Dirinya merasa dirugikan dengan adanya tudingan Kades Citalahab Hambali.

Menurut Enong, Desa Citalahab yang akhirnya hanya menjadi juara harapan pertama (juara ke 4) tersebut hasil penilaian tim dari sejumlah unsur dinas dan instansi terkait, diantaranya dari dinas kesehatan, pendidikan, dan dinas sosial termasuk BPPMD Banten.

“Baik secara pribadi dan jabatan, munculnya pernyataan itu sangat merugikan. Sebab gagalnya Citalahab masuk nominasi juara, karena berdasar penilaian secara obyektif di lapangan, desa itu belum memenuhi kreteria yang ditetapkan sesuai program P2WKSS”, kilahnya dengan nada ketus. [JND/HID]

Baca Juga

  • Tim Monitoring Pemprov Banten Kunjungi P2WKSS di Lebak

Tulis Komentar

  • Home
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
  • Edisi Cetak
Copyright © 2010 KORAN BANTEN Re-Design by online film izle