• Depan
  • Utama
  • Opini
  • Banten Kita
    • Tangerang Raya
    • Pandeglang
    • Lebak
    • Serang Raya
    • Cilegon
  • Hukum & Kriminal
  • Profil
  • Pendidikan
  • Ekonomi/Bisnis
  • Editorial
  • Pesta Demokrasi
pajak
Ucapan

Berita Populer

  • Siswa SMA Negeri 1 Cibeber Berkunjung ke IPB
  • Budidaya Jamur Tiram Putih Menguntungkan
  • Pilih mana, Jabatan Politis atau Jabatan Karir?
  • Habis Keberuntungan, Imal Diancam Hukuman Berat
  • Forum P3A Berperan Bagi Petani
  • E-Book Tidak Efektif
  • Telkom Flexi SPSI Diluncurkan
  • Lereng Gunung Aseupan Longsor
  • Disperindag Banten Usulkan Operasi Pasar Beras
  • Kabupaten Serang
25 Januari 2009 | Banten Kita

Banjir Cimanggu Akibat Longsor di TNUK

Jembatan Cimanggu yang nayris patah diterjang banjir bandang.PANDEGLANG | Banjir bandang yang melanda Kecamatan Cimanggu _ Kabupaten Pandeglang, Rabu (14/1) lalu, ternyata disebabkan oleh longsor yang terjadi di dalam kawasan yTamnan Nasional Ujung Kulon (TNUK). Hal itu sesuai dengan dugaan warga dan dibuktikan setelah tim dari balai TNUK melakukan survei pada kawasan tersebut.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Cibayoni, Dana Sonjaya, mengungkapkan, berdasarkan hasil peninjauan petugas TNUK diketahui longsor terjadi di tiga resort dalam kawasan situs warisan dunia itu. Tiga resort yang menyebabkan banjir bandang di Sungai Cisiih itu adalah Resort Padali, Kopi dan Ketapang.

Selain itu, Dana juga menyatakan, penyebab terjadinya longsor di tiga resrt itu adalah kemiringan tanah yang mencapai di atas 40 derajat, serta banyaknya selokan air dengan kemiringan diatas 35 derajat. Kondisi itu juga diperburuk dengan media tanahnya yang mudah goyang dalam musim penghujan karena jenis tanah aluvial (tanah lempung, Red).

“Area longsor di kawasan TNUK di tiga resort itu mencapai luas 11.017 meter persegi,” kata Dana.

Yang kini dipikirkan, lanjut Dana, adalah bagaimana caranya pihak TNUK mengeluarkan 127 batang pohon yang tumbang dengan diameter rata-rata mencapai 60 cm. Sebab, bila tidak secepatnya dievakuasi keluar kawasan, dikhawatirkan banjir akan kembali terjadi karena kayu-kayu itu menghambat saluran air.

Terpisah, Camat Cimanggu, Moch Saefudin menyatakan, bahwa pengamanan kawasan TNUK bukan kewajiban petugas saja, tetapi kewajiban semua pihak. Ia pun menghimbau soal penebangan liar dan area pesawahan dalam kawasan TNUK untuk diawasi ketat oleh semua pihak.

“Solusi lainnya, dia akan sampaikan kepada Pemkab Pandeglang, soal lainnya yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat yang berada di Cimanggu,” kata Saefudin.

Sebelumnya, Bupati Pandeglang, Dimyati Natakusumah juga menyatakan, bencana banjir yang sempat menyerang Kecamatan Cimanggu banyak disebabkan oleh penggundulan hutan yang terjadi di wilayah Pandeglang. Minimnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan, membuat bencana serupa tetap mengancam wilayah itu.

Hal itu dinyatakan Bupati Pandeglang, Dimyati Natakusumah ketika mengunjungi lokasi banjir di Desa Ciburtial dan Desa Cimanggu, Kecamatan Cimanggu, Kamis (15/1). Untuk itu, bupati berharap masyarakat dapat secara bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan demi mencegah bencana yang lebih besar.

“Karena banjir itu erat kaitannya dengan dampak penggundulan hutan di Pandeglang. Seharusnya kita mulai sadar dan bersama-sama melestarikan lingkungan,” pinta Dimyati. [END]

Baca Juga

  • Banjir Bandang Rusak Jembatan
  • Jelang Musim Hujan, Kelurahan Cibeber Perlebar Drainase
  • Pemenang Lomba Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia Kunjungi TNUK
  • Operasi Gabungan Tangkap Pencuri di TNUK
  • Sungai Cilemer Meluap

Tulis Komentar

  • Home
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
  • Edisi Cetak
Copyright © 2010 KORAN BANTEN Re-Design by online film izle