• Depan
  • Utama
  • Opini
  • Banten Kita
    • Tangerang Raya
    • Pandeglang
    • Lebak
    • Serang Raya
    • Cilegon
  • Hukum & Kriminal
  • Profil
  • Pendidikan
  • Ekonomi/Bisnis
  • Editorial
  • Pesta Demokrasi
pajak
Ucapan

Berita Populer

  • Siswa SMA Negeri 1 Cibeber Berkunjung ke IPB
  • Budidaya Jamur Tiram Putih Menguntungkan
  • Pilih mana, Jabatan Politis atau Jabatan Karir?
  • Habis Keberuntungan, Imal Diancam Hukuman Berat
  • Forum P3A Berperan Bagi Petani
  • E-Book Tidak Efektif
  • Telkom Flexi SPSI Diluncurkan
  • Disperindag Banten Usulkan Operasi Pasar Beras
  • Lereng Gunung Aseupan Longsor
  • Kabupaten Serang
24 Februari 2009 | Pendidikan

Tak Ada Kelas, Mushola Pun Jadi

PANDEGLANG | Persoalan pendidikan di Kabupaten Pandeglang seakan tak pernah berujung. Belum optimalnya pembangunan infrastruktur pendidikan membuat sektor itu selalu berwajah muram.
Setidaknya hal itu bisa dibuktikan di SDN 12 Pandeglang yang terletak di Kampung Kadu Toke, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang.

Meski kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung normal, satu pemandangan aneh terlihat ketika puluhan murid kelas 2 di sekolah itu terpaksa belajar di mushola. Hal itu terjadi karena jumlah murid baru pada tahun ajaran 2008 semakin meningkat, sementara ruang kelas yang ada tidak cukup untuk menampung mereka.

Menurut Kepala Sekolah SDN 12 Pandeglang, Donin Jaeni, selain menggunakan mushola sebagai tempat belajar, mereka juga terkadang menggunakan ruang guru. Itu dilakukan mengingat jumlah siswa sekolah ini mencapai 249 orang, tidak tertampung oleh ruangan kelas yang hanya empat ruangan. Dua ruangan lainnya digunakan untuk ruang guru, kepala sekolah dan perpustakaan.

Donin mengaku, pihak sekolah telah berupaya dengan menjadwalkan KBM siswa kelas 2 bergiliran dengan kelas 1. Namun persoalannya, kebiasaan siswa sekolah ini yang telah berlangsung sejak lama, adalah berangkat dari rumah ke sekolah pagi hari agar bisa pulang bersama-sama. Mereka takut pulang sendiri-sendiri karena harus melewati hutan dan sawah.

“Dari pada kelas dua atau kelas satu harus saling menunggu di luar sekolah, terpaksa kami gunakan Mushola untuk kegiatan belajar siswa,” kata Donin.

Donin menambahkan, penggunaan mushola merupakan inisiatif pihak sekolah agar kegiatan belajar bisa dilaksanakan serempak. Meski diakui Donin, belajar di lantai mushola tidak efektif, tapi itu dipaksakan karena khawatir anak murid tidak semuanya mendapatkan pelajaran yang semestinya.

Idealnya, kata Donin, SDN 12 mempunyai tujuh lokal, masing-masing enam lokal ruang belajar dan satu lokal ruang guru. Mengingat jumlah guru yang ada 10 orang ditambah satu orang kepala sekolah dan satu orang penjaga sekolah, sehingga untuk menyesuaikan jumlah guru yang ada terpaksa satu ruang kelas belajar digunakan untuk ruang guru sedangkan ruang yang semestinya untuk guru dipakai ruang kepala sekolah, perpustakaan, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan ruang Tata Usaha (TU) serta ruang Komite sekolah.

“Penambahan lokal sudah kami usulkan dan mudah-mudahan segera direalisasikan,” harapnya.

Sementara, Ketua Komite Sekolah SDN 12 Pandeglang, Djunaedi membenarkan kondisi siswa di sekolah tersebut. Meningkatnya jumlah guru dan murid tidak diimbangi dengan ruang kelas yang memadai.

Djuanedi menambahkan, dirinya berharap agar tahun anggaran 2009 ini empat lokal ruang kelas belajar mendapatkan anggaran rehablitasi/pembangunan dari dana DAK. Dijelaskan lebih jauh empat ruang belajar terwebut dibangun pada tahun anggaran 1983 dan sekarang kondisinya sudah rusak berat terutama di bagian atap. “Pada musim penghujan ini pihak sekolah merasa kewalahan dan sangat terganggu, selain hawatir terjadi roboh dan air hujan pun masuk kelas,” ujarnya.

Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Pandeglang Abu Hasan juga membenarkan kondisi yang terjadi di SDN 12 Pandeglang. Ia mengaku sudah mengusulkan anggaran rehabilitasi. Awalnya, rehabilitasi SDN 12 Pandeglang sudah direncanakan oleh konsultan perencana. Namun, entah mengapa, pada saat alokasi DAK ditetapkan, sekolah itu tidak tercantum.

“Kami mengusulkan rehabilitasi untuk 15 SD, namun yang direalisasi hanya lima SD, dan tidak termasuk SDN 12. Saya juga tidak tahu kenapa SDN 12  tidak masuk alokasi kegiatan DAK tahun 2009, padahal sebelumnya masuk dan hingga pihak konsultan sudah melakukan perencanaan”, terang Abu serya mengingatkan memang yang berwenang menentukan masuk dan tidaknya kegiatan DAK untuk SDN kewenangan Diknas Kabupaten. (HID)

Baca Juga

  • Gedung Sekolah Tertimpa Pohon Melinjo
  • Banten Jadi Tuan Rumah Hari Aksara Nasional
  • Disdik Banten Dan PGDI Selenggarakan Lomba Gigi Sehat
  • 200 Gedung SD Yang Rusak Akan Diperbaiki
  • SDN 2 Jiput Pandeglang Rusak Parah

Komentar Anda:

  1. faizoi | 29 April 2009 | 11:11

    tak ada rotan akar pun…jabi, ya itulah fenomena pendidikan di indonesia,moga pemerintah lebih memperhatikan pendidikan dengan serius,padahal kalo dipikir, mereka yang duduk di pemerintahan dan mempunyai jabatan juga bukan lain karena pendidikan mereka, ya to?, atas dasar itu ya harusnya mereka memperjuangkan pendidikan di indonesia khususnya banten , semangat terus perjuangkan pendidikan tuk mencerdaskan bangsa.

  2. tb usep nuryadi | 26 Nopember 2009 | 04:26

    saya sebagai warga kadu tokek sangat prihatin dengan k,adaan bangunan sekolah itu dan saya mohon kepada pihak yg bertanggung jawab dalam pembangunan gedung sekolah tolong masih banyak juga sekolah lainya yg udah tidak layak untuk d,huni

Tulis Komentar

  • Home
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
  • Edisi Cetak
Copyright © 2010 KORAN BANTEN Re-Design by online film izle