Pelajar di Indonesia Saat Ini Sangat Terpuruk
Oleh : DIAH MUTMAINAH RACHMAWATI *)
Ketika berbicara pergerakan nasional di Indonesia, biasanya orang merujuk pada gerakan-gerakan kemahasiswaan dan luput membicarakan peran gerakan kepelajaran. Padahal, dalam sejarah pergerakan nasional, pelajar juga mempunyai andil cukup strategis dalam proses pembentukan pergerakan nasional. Pelajar berandil pada era prakemerdekaan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, orde reformasi, bahkan hingga era sekarang ini, yaitu era pascareformasi.
Kalau kita kembali ke belakang, gerakan pelajar di era prakemerdekaan belum terbentuk secara organik dan masih tergabung dalam wadah gerakan kemahasiswaan atau kepemudaan. Gerakan pelajar harus terlibat dan bergumul dengan problematika pelajar. Mereka secara intensif hadir di tengah-tengah pelajar untuk berdiskusi, berdialog, dan mendengarkan aspirasi. Jadi, mereka tak hanya mengajak berpikir kritis tentang persoalan di lingkup sekolah saja, tapi juga tentang kondisi sosial, politik, agama, dan budaya dalam perspektif anak-anak muda.
Pelajar menghadapi masalah lemahnya budaya membaca, korban kebijakan pendidikan, objek politik, sasaran budaya konsumerisme dan hedonisme, juga korban kekerasan media. Pelajar sangat rentan menjadi korban dari proses sosial politik.
Ada beberapa program strategis untuk menanggulangi masalah tersebut Pertama, gerakan membaca, ini sangat penting, karena minat membaca saat ini sangat kurang. Kedua, melakukan pendidikan politik untuk menyadarkan pelajar sebagai warga Negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang perlu mereka laksanakan. Ketiga, membangun gerakan advokasi pendidikan. Pendidikan adalah hal yang melekat sekali dengan pelajar.
Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pendidikan di Indonesia berpangaruh sekali dengan seorang pelajar. Keempat, melakukan gerakan budaya tanding di media, khususnya televisi. Sekarang banyak acara-acara televise yang tidak mendidik dan mencerahkan, tetapi mengajarkan gaya hidup yang glamour, mistik, dan kekerasaan yang menumpulkan otak dan akal sehat seorang pelajar. Perlahan sinetron-sinetron di televisi memberikan pengaruh sangat negative bagi masyarakat terutama anak muda dan pelajar-pelajar. Imitasi itupun mulai di tiru dari cara makan,minum,berpakaian,dan cara bergaul dengan sesamanya.
Sekarang pendidikan di Indonesia semakin mahal, walaupun di adakan program penggratisan sekolah 9 tahun dan BOS tetap saja sekolah sedikitnya membutuhkan uang untuk berkembangnya sekolah tersebut, seperti dana pembangunan sekolah yang cukup mahal. Hal ini yang membuat pelajar-pelajar di Indonesia putus sekolah. Percuma jika pemerintah mengadakan program gratis sekolah 9 tahun. Toh tidak semua pelajar merasakan sekolah gratis tersebut, mereka lebih mementingkan mencari uang untuk melengkapi kebutuhan hidup sehari-hari dibandingakan mementingkan belajar untuk pendidikan mereka.
Melihat masalah tersebut seharusnya gerakan pelajar mengambil inisiatif untuk melakukan perlawanan. Dari seringnya membaca untuk mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, menyadarkan masyarakat tentang acara-acara yang di tayangkan di televisi yang tidak semua mendidik, misalnya dengan cara gerakan satu hari tanpa menonton televisi, memboikot acara-acara yang tidak layak di tonton, dan mengkampanyekan acara-acara televise yang bermutu untuk di tonton.
Semoga dengan melakukan inisiatif-inisiatif tersebut para pelajar-pelajar maju, dan tidak hanya terpuruk soal permasalahan pendidikan di Indonesia, Karena pelajar adalah aset terbesar yang dapat membesarkan Indonesia nantinya.
*) Mahasiswi Untirta, tinggal di Perum. Bukit Permai, Serang - Banten.
Tulis Komentar