Meruntuhkan Isolasi di Sumurbandung
LEBAK | Inilah karya nyata warga Desa Sumurbandung Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Demi membuka isolasi yang selama ini mengepung desa mereka, mereka melakukan gugur gunung (membuka akses badan jalan) sepanjang dua kilometer. Hebatnya, kegiatan swadaya ini dilakukan dengan cara bergotong royong.
Selama ini, hanya ada jalan setapak kecil yang bisa menghubungkan dunia luar dengan Kampung Kapunduan Desa Sumurbandung. Jangankan roda empat yang tidak bisa masuk ke desa itu, kendaraan roda dua pun sering kesulitan mencapai kampung itu lantaran jalan licin, terutama di musim hujan.
“Sudah berpuluh-puluh tahun, keberadaan Kampung Kapunduan sangat terilosir. Maka aparat desa bersama warga bergotong royong membuka akses badan jalan Kapunduan sepanjang 2 kilometer,” ujar Kepala Desa Sumurbandung, Amin Hidayat kepada Koranbanten.Com di kediamannya (29/7).
Amin menjelaskan, Kampung Kapunduan diibaratkan adalah sebuah pulau di areal persawahan, menuju ke kampung tersebut, melewati hutan dan persawahan. Jumlah penghuni di kampung tersebut sebanyak 31 rumah dengan 40 Kepala Keluarga (KK), dengan mata pencaharian warga mayoritas petani. Selain padi, hasil sumber alam yang dapat diandalkan dari kampung tersebut juga terdapat buah-buahan.
Dengan telah terbentuknya badan jalan, lanjut Amin, nantinya akan diusahakan untuk dilakukan pengerasan jalan pada jalan tersebut melalui program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Pedesaan tahun ini dan secara bertahap pula nantinya akan diupayakan untuk dihotmik melalui Program Hotmix Masuk Desa (HMD).
“Rencana kami, setelah terbentuk badan jalan, maka akan mengajukan kegiatan pengerasan jalan tersebut melalui PNPM Pedesaan dan selanjutnya akan diusulkan lagi pada Program HMD,” kata Amin.
Tidak ada Jaringan Listrik
Ditambahkan Amin, satu bukti lagi, kalau kondisi Kampung Kapunduan terisolir yakni, belum adanya jaringan listrik (tiang-tiang listrik) yang layak dan memadai. Jaringan yang ada saat ini, mengambil dari kampung tetangga dengan tiang-tiang seadanya dari batang-batang bambu atau pepohonan.
“Untuk itu, karena semua ini merupakan kewajiban dan tangungjawab bersama, pihaknya berharap kepada pemerintah baik Pemkab Lebak, Pemprov Banten maupun Pemerintah Pusat untuk peduli dan turut serta membangun Kampung Kapunduan agar tercapai pemerataan dalam pembangunan desa. Sehingga keberadaan warga di Kampung Kapunduan sama dengan warga-warga kampung lainnya yaitu dapat dengan leluasa melakukan aktivitas tanpa adanya hambatan, yang pada akhirnya akan mendongkrak aspek perekonomi dan pendapatan warga di kampung tersebut,” cetus Amin.
Inisiasi Kades
Terpisah, Marsim (40) warga Kampung Kapunduan merasa bersyukur dengan telah terbentuknya badan jalan ke kampungnya. Menurutnya, tahun berganti tahun, kades-berganti kades, baru kades yang sekarang yang mampu membuka akses badan jalan yang kini bisa dilalui kendaraan roda empat. Dahulu, jelas Marsim, jalan menuju ke Kampung Kapunduan merupakan jalan setapak yang sulit dilalui kendaraan. Warga yang mau bepergian, terpaksa harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer.
“Berkat kepepimpinan Kades yang sekarang, warga Kampung Kapunduan dapat bepergian menggunakan kendaraan, walau kondisi badan jalan masih tanah merah,” kata Marsim.
Marsim bersama warga Kampung Kapunduan lainnya berharap, agar jalan menuju ke kampungnya dapat ditingkatkan lagi seperti jalan-jalan di kampung lain. Selain itu, keberadaan jaringan listrik sangat dibutuhkan di kampungnya.
“Kami ucapkan terimakasih kepada Kades dan warga desa Sumurbandung lainnya yang telah peduli terhadap keberadaan Kampung Kapunduan. Serta kepada pemerintah agar terus peduli dan memperhatikan untuk membangun kampung kami agar dapat berdiri sama tinggi dengan kampung-kampung lainnya,” katanya pada Koranbanten.Com.
(RA.Sudrajat)
Tulis Komentar