Bupati Damprat Pejabat Lebak
LEBAK | Bupati Lebak, Mulyadi Jayabaya kembali mendamprat para Kepala Dinas dan Kepala Badan di lingkungan Pemkab Lebak. Kali ini, Bupati berang karena menilai istri para kepala dinas atau kepala badan kurang kooperatif dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Lebak.
“Saya sering melihat para anggota PKK itu tidak hadir dalam kegiatan kedarmawanitaan, padahal itu tugasnya sebagai istri-istri para pejabat daerah yang membantu kinerja pemerintah,” kata Mulyadi saat memberikan sambutan pada acara Pencanangan Penanggulangan Gizi Balita Bawah Garis Merah dengan Pemberian Nutrisi Seluler Tingkat Provinsi Banten di Pendopo setempat, Rabu (12/8).
Menurut Mulyadi, PKK merupakan lembaga non pemerintah yang bertugas membantu percepatan pembangunan daerah melalui kiprahnya sebagai istri pejabat. Karenanya, jika istri tidak lagi aktif mengikuti kegiatan rutinnya sebagai istri pejabat, maka akan mengganggu kualitas kerja perangkat daerah. “Saya akan melakukan tindakan tegas (Menggeser-red) terhadap pejabat yang istrinya tidak lagi aktif sebagai anggota PKK,” tegasnya.
Selain itu, tambah Mulyadi pihaknya juga meminta seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kabupaten Lebak bisa mendukung sepenuhnya gerakan atau program yang dilakukan PKK Kabupaten Lebak. “Program PKK itu harus kita dukung bersama karena cukup membantu dalam mendukung percepatan pembangunan. Lagipula siapa lagi yang akan memberikan contoh terbaik kepada masyarakat Lebak selain kita semua termasuk istri para pejabat di pemerintahan,” tegasnya.
(Yan Dahlan)
MANIFESTASI PEMBANGUNAN DI LEBAK
Oleh : Dadan Ramdhani, S.E.,M.Si.
Saya menyambut baik “curhat” Bapak Mulyadi Jayabaya (sebagai Bupati Lebak) kepada Bapak Boediono ketika berkunjung ke kabupaten Lebak, khususnya ke Rangkasbitung.
Sebagai putera daerah Lebak, khususnya Rangkasbitung, sudah seyogyanya Lebak berbenah diri terutama dari segi pembangunan baik pendidikan maupun ekonomi serta infrastruktur lainnya yang semuanya merupakan suatu kesinambungan yang harus dimanifestasikan dalam bentuk pembangunan yang seutuhnya.
Menurut hemat saya, dalam koridor pendidikan lebih ditekankan bukan pada aspek teoritis saja melainkan juga pada aspek praktis sehingga lulusan yang didapat bukan hanya untuk sekedar mencari pekerjaan tetapi juga dapat menciptkan lapangan pekerjaan. Sebagai informasi, banyak sarjana-sarjana di Rangkasbitung yang ‘ilmunya” malah diberikan ke daerah lain (artinya bekerja dan menciptakan lapangan di daerah lain). Pertanyaannya adalah, mengapa tidak di Rangkasbitung ?.
Jika saya menjawab pertanyaan tersebut, intinya adalah terkait dengan pembangunan ekonomi. Dalam wacana berpikir saya, alangkah baiknya jika kabupaten Lebak membuka kesempatan bagi para investor untuk segera melihat “peluang hijau” di kabupaten Lebak sehingga diharapkan bermunculan perusahaan-perusahaan yang dapat bekerja sama dengan sumber daya manusia setempat agar mampu memberikan kontribusi terbaik bagi kabupaten Lebak.
Masalahnya terletak pada infrastruktur yang ada. Pendapat saya, mengapa arus jalan menuju Lebak masih terasa belum memungkinkan para Investor untuk melihat lebih baik kabupaten Lebak. Padahal, warga kabupaten Lebak pun banyak yang memiliki potensi yang baik hanya saja mereka terhambat dengan pendanaan.
Maka dari itu, saya sangat setuju dengan jalan pemikiran Bapak Mulyadi Jayabaya yang “mencurahkan isi hati” beliau kepada Bapak Boediono. Inilah salah satu agenda kabupaten Lebak yang harus segera dijembatani agar manifestasi pembangunan seutuhnya dapat segera terealisasi. Semua itu tentunya harus dengan kerja sama yang baik semua warga yang ada di kabupaten Lebak dengan segala kompetensi yang dimiliki masing-masing warga kabupaten Lebak.
Penulis :
DADAN RAMDHANI, S.E., M.Si.
Mahasiswa S-3 Ilmu Akuntansi
Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang
Home :
Percetakan UD. “SETIA KAWAN”
Jl. Tirtayasa No. 28 RT. 04/05
Rangkasbitung - Lebak. 42311
Banten.
HP. : 081317978349 / 081318361836
Telp Rumah : (0252) 202544.